Rabu, 28 Januari 2015

10 Tokoh Paling Berpengaruh di Indonesia

Siapakah tokoh-tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia sejak zaman kerajaan hingga zaman kemerdekaan? Berikut ini kami masukkan 10 orang tokoh dalam daftar orang paling berpengaruh di Indonesia. Kriterianya adalah: dampak pemikiran dan perilaku tokoh tersebut sejak zaman mereka hingga kini. Pengaruhnya bisa dalam bidang kebijakan pemerintahan, pemikiran dan perilaku warga, sampai juga pada kondisi sosial ekonomi sekarang ini.

1.  Gadjah Mada

Mahapatih Gadjah Mada yang wafat pada tahun 1364 adalah seorang panglima perang dan tokoh yang sangat berpengaruh pada zaman Kerajaan Majapahit. Ia menjadi Mahapatih pada zaman Ratu Tribhuwanatunggadewi, dan kemudian sebagai Amangkubhumi (Perdana Menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. 

Saat menjadi patih pada tahun 1258 Saka (1336) Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Isinya : ia akan menikmati palapa atau rempah-rempah (yang diartikan kenikmatan duniawi/termasuk wanita) bila telah berhasil menaklukkan Nusantara.

Sebagaimana tercatat dalam kitab Pararaton dalam Bahasa Indonesianya, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi telah bersumpah: "Saya (baru akan) berhenti puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa."

Selama menjadi mahapatih, Gajah Mada berhasil mewujudkan mimpinya menyatukan nusantara. Dimulai dengan penaklukan ke daerah Swarnnabhuni (Sumatera) tahun 1339, pulau Bintan, Tumasik (sekarang Singapura), Semenanjung Malaya, kemudian pada tahun 1343 bersama dengan Arya Damar menaklukan Bedahulu (di Bali) dan kemudian penaklukan Lombok, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kendawangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka,  Saludung, Sulu, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjung Kutei, dan Malano.

Pada zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwana-Tunggadewi, Gajah Mada terus melakukan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun,  Taliwang,  Sapi, Gunungapi,  Seram,  Hutankadali,  Sasak,  Bantayan, Luwu, Buton, Banggai, Kunir,  Galiyan, Salayar, Sumba, muar (Saparua), solor, bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor,  Dompo, dan Kerajaan Sunda.

Reputasi Gadjah Mada yang begitu hebat telah menenggelamkan nama para raja yang menjadi atasannya. Sekarang ia telah ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional dan merupakan simbol nasionalisme dan persatuan Nusantara.

2. RA Kartini

Saat masih remaja Raden Ajeng Kartini dilarang melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi sesai cita-citanya. Saat itu adat -istiadat memang tidak membolehkan wanita punya pendidikan tinggi karena tugasnya setelah menikah hanyalah mengurus rumah tangga.

Ia juga menjadi korban adat-istiadat yang disebut pingitan. Bentuknya berupa larangan bagi wanita muda untuk keluar dari rumah sampai waktunya  menikah. Padahal ayahnya saat itu termasuk priyayi yang terpandang.

Demi menghilangkan rasa bosan berada di rumah terus, Kartini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca buku. Bahkan, dia tidak segan untuk bertanya kepada ayahnya bila ada hal yang tidak dimengertinya. Lambat laun pengetahuannya bertambah dan wawasannya pun meluas.

Berkat hobi membacanya, ia mengenal karya dan pemikiran wanita Eropa yang dikaguminya. Terlebih kebebasan mereka untuk bisa terus bersekolah. Rasa kagum itu menginspirasinya untuk memajukan wanita Indonesia. Dalam pandangannya, wanita tidak hanya harus bisa menjalankan urusan “belakang” rumah tangga saja. Wanita juga harus bisa dan punya wawasan dan ilmu yang luas. Dia pun mulai bergerak mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajari baca tulis dan pengetahuan lainnya. Makin hari, Kartini makin disibukkan dengan aktivitas membaca dan mengajarnya.

Dia juga punya banyak teman di Belanda dan sering berkomunikasi dengan mereka. Bahkan, dia sempat memohon kepada Mr. J.H. Abendanon untuk memberinya beasiswa sekolah di Belanda. Belum sempat permohonan tersebut dikabulkan dia dinikahkah dengan Adipati Rembang bernama Raden Adipati Joyodiningrat. 

Berkat kegigihan serta dukungan sang suami, Kartini mendirikan Sekolah Wanita di berbagai daerah. Seperti Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan sebagainya. Sekolah Wanita itu dikenal dengan nama Sekolah Kartini.

Surat-surat korespondensinya dengan teman-temannya di Belanda kemudian dibukukan oleh Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku ini telah menginspirasi banyak wanita, tidak saja, wanita di zamannya tapi juga wanita kini dan masa depan.

Sesuai Keppres No. 108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964, Kartini resmi digelari pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia. Keppres ini juga menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini.

Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan. Tidak hanya di kota-kota di Indonesia saja, melainkan di kota-kota di Belanda. Seperti Kota Utrecht, Venlo, Amsterdam, dan Harleem. WR. Supratman bahkan membuatkan lagu berjudul Ibu Kita Kartini untuk mengenang jasa-jasanya. 

Pemikirannya telah mendefinisikan arti emansipasi bagi rakyat Indonesia. Emansipasi menurut Kartini bukanlah feminisme ala barat. Meski ia menginginkan wanita mendapatkan kesempatan untuk tampil di berbagai bidang, ia tetap menganggap wanita sebagai pendamping suami dalam urusan rumah dan pendidikan anak.

Pengaruhnya sampai sekarang masih sangat kuat. Tidak ada satupun tokoh Indonesia, yang hari kelahirannya diperingati semeriah Hari Kartini. Termasuk Bung Karno sekalipun.

3. Oemar Said Tjokroaminoto

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, kelahiran Ponorogo pada 16 Agustus 1882, merupakan salah satu tokoh yang telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Ia juga seorang pemimpin salah satu organisasi penting pada zaman itu, yaitu Sarekat Islam (SI). Ia kemudian meninggal pada umur 52 tahun yaitu tanggal 17 Desember 1934 di Yogyakarta.

Pengaruhnya begitu besar karena di rumahnya berkumpul tokoh-tokoh pergerakan nasional sebagai anak kos. Ia menjadikan rumahnya sebagai forum diskusi buat mereka.
Mereka adalah SemaoenAliminMusoSoekarno, dan Kartosuwiryo. Walau tidak kos di rumahnya, Tan Malaka pernah berguru padanya

Ia adalah orang yang pertama kali menolak untuk tunduk pada Belanda. Setelah ia meninggal lahirlah warna-warni pergerakan indonesia yang dibangun oleh murid-muridnya, yakni kaum sosialis/komunis yang dianut oleh  SemaoenMusoAliminSoekarno yang nasionalis; dan Kartosuwiryo yang Islam. Namun, ketiga kubu itu terlibat pertentangan hebat. Salah satu imbasnya adalah terjadinya Pemberontakan Madiun 1948 yang dilakukan Partai komunis Indonesia karena memproklamasikan "Republik Soviet Indonesia" yang dipimpin Muso. Presiden Soekarno mengirimkan pasukan elite TNI yakni Divisi Siliwangi untuk menumpas pemberontakan itu. Dan Musopun tertembak mati.

Di kemudian hari muncul pemberontakan oleh Negara Islam Indonesia(NII) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo. Soekarno pun terpaksa menjatuhkan hukuman mati terhadap teman kosnya itu pada 12 September 1962.

Mungkin karena telah melahirkan banyak tokoh pergerakan itulah, HOS Tjokroaminoto dijuluki De Ongekroonde van Java atau "Raja Jawa Tanpa Mahkota".
http://id.wikipedia.org/wiki/Oemar_Said_Tjokroaminoto

4. Soekarno
Tak diragukan lagi, Soekarno pantas masuk daftar orang berpengaruh di Indonesia. Ia berperan besar dalam menanamkan bibit-bibit nasionalisme di  kalangan bangsa Indonesia dan sekaligus menghantarkannya ke alam kemerdekaan. Sebagai Presiden RI pertama, Soekarno juga sangat berperan dalam menjaga kemerdekaan RI dari ambisi Belanda untuk come-back. Pemikiran-pemikirannya tentang kapitalisme, neokolonialisme,  dan neo imperalisme sampai sekarang masih relevan untuk memahami masalah ekonomi yang dihadapi bangsa-bangsa di dunia.

5. Ahmad Dahlan
Pendiri Muhammadiyah Kyai Haji Ahmad Dahlan adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.

Ahmad Dahlan  lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun. Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah. Tujuannya untuk melakukan pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali pada Al-Qur’an dan al-Hadits.

Saat ini Muhammadiyah telah menjadi ormas terbesar kedua di Indonesia setelah NU. Organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan ini memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sosial dan politik di Indonesia melalui para pemimpin dan tokoh-tokonya yang terjun di pemerintahan atau menjadi politisi. Muhammadiyah juga telah memberikan warna bgi pemahaman Islam dengan gerakan permunian Islam terhadap tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

6. Hasyim Asyari
Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy’arie  adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa terbesar di Indonesia. Dia lahir pada 10 April 1875 24 Dzulqaidah 1287H) dan meninggal pada 25 Juli 1947.

Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, KH Hasyim Asyari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Pada tahun 1926, KH Hasyim Asyari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama.

NU juga telah banyak melahirkan banyak pesantren di Indonesia. Tokoh-tokohnya banyak yang terjun di pemerintahan dan menjadi politisi sehingga sangat mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. NU dikenal sebagai organisasi yang mengembangkan Islam moderat.

7. Soedirman,
Dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia, Jenderal Soedirman dicatat sebagai Panglima dan Jenderal RI yang pertama dan termuda. Saat usia Soedirman 31 tahun ia telah menjadi seorang jenderal.

Meski menderita sakit tuberkulosis paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya pada saat perang kemerdekaan RI. Pada tahun 1950 ia wafat karena penyakit tuberkulosis tersebut dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari 1916 –meninggal di Magelang, Jawa Tengah, 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun.

Bila berbicara tentang kemiliteran, pasti orang Indonesia ingat Jenderal Sudirman. Ia dianggap sebagai tentara teladan yang tiada duanya dan pemikiran-pemikirannya selalu memberikan inspirasi.

8. Soeharto
Ia dikenal sebagai  presiden yang mendirikan kediktaktoran terlama di Indonesia.
Sebelum menjadi presiden, Soeharto adalah pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. Setelah gerakan 30 September, Soeharto menyatakan bahwa PKI adalah pihak yang bertanggung jawab dan memimpin operasi untuk menumpasnya. Operasi ini menewaskan lebih dari 500.000 jiwa.

Soeharto kemudian mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, dan resmi menjadi presiden pada tahun 1968. Ia dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993 dan 1998. Pada tahun 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 mei tahun tersebut, menyusul terjadinya kerusuhan dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa.

Ia dianggap meletakkan dasar bagi stabilitas politik dan pembangunan ekonomi selama 33 tahun pemerintahannya. Tapi ia juga dianggap sangat korup karena selama berkuasa telah memperkaya diri dan keluarga. Selama 33 tahun pemerintahannya yang sangat represif dan menindas, ia telah meninggalkan trauma akan kekuasaan dan politik bagi banyak orang Indonesia.

Tapi ketika orang kecewa terhadap pembangunan ekonomi oleh pemerintahan  demokrasi sekarang ini, banyak orang yang merindukan kembalinya pemerintahan ala
Suharto. Tentu saja ini terjadi pada orang-orang yang pernah diuntungkan pada zamannya Suharto.

9. Abdurrahman Wahid
Presiden keenam Indonesia yang tenar dengan sebutan Gus Dur ini dianggap sebagai presiden yang gagal. Ia diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden oleh MPR setelah tiga tahun berkuasa karena mau membubarkan DPR/MPR. Ketidakmampuannya mengendalikan pernyataan-pernyataannya yang kontroversial dianggap mengganggu stabilitas.

Tapi ketika orang berbicara tentang prularisme, Gus Dur selalu menjadi acuan. Pada zaman pemerintahannya ia menjadikan agama orang keturunan Tionghoa, Kong Hu Chu sebagai salah satu agama resmi. Selain itu ia selalu gigih melindungi kaum minoritas ras dan agama dari tindakan rasialis dari kelompok etnis mayoritas dan radikal agama.

10. Megawati
Megawati juga dianggap presiden yang gagal karena hanya mampu bertahan selama dua tahun setelah menggantikan Gus Dur. Dalam pemilihan umum secara langsung ia dikalahkan oleh Susilo Bambang Yudoyono.

Namun pada zamannya untuk pertama kalinya digelar pemilihan presiden secara langsung. Dan pada zamannya pula KPK yang sekarang menjadi momok para koruptor dibentuk dengan alasan lembaga penegak hukum polisi dan kejaksaan melempem dalam pemberantasan korupsi. Ia juga pernah disebut Majalah Forbes sebagai salah satu wanita terkuat dunia.

Selama pemerintahannya ia dianggap pro asing karena menjual Indosat ke Singapura. Tapi ada pembelaan yang menyatakan bahwa saat itu Indosat adalah BUMN terkorup dan telah merugikan negara puluhan triliun & melakukan banyak praktek ilegal. Hasil penjualan asset Indosat kemudian dipakai untuk membayar hutang negara yang saat itu jatuh tempo. Kemudian sebagai ganti Indosat dibuat lembaga yang lain yaitu Satelindo.




Recent Posts